Aku, Kamu dan Hujan
Hujan selalu datang tanpa janji. Ia jatuh begitu saja, seperti perasaan yang tak pernah sempat diucapkan. Di sebuah halte tua yang catnya mulai terkelupas, aku dan kamu pernah duduk berdampingan—bukan sebagai dua orang yang saling memiliki, tetapi sebagai dua jiwa yang sama-sama lelah.
Kamu menatap jalan yang basah, sementara aku menatap hujan yang memantul di aspal. Tidak ada percakapan panjang. Hanya suara air yang jatuh dan detak waktu yang berjalan perlahan. Namun di sela keheningan itu, ada sesuatu yang tumbuh diam-diam: pengertian.
Hujan hari itu tidak deras, hanya cukup untuk membuat dunia terasa lebih jujur. Payung kecil di tanganmu tak sepenuhnya melindungi, dan tanpa sadar aku mendekat—bukan untuk menghindari basah, tetapi untuk berbagi hangat. Kamu tersenyum, senyum sederhana yang tidak berusaha menjanjikan apa pun.
“Kita selalu bertemu saat hujan,” katamu pelan.
Aku tidak menjawab. Karena beberapa hal memang tidak perlu diberi nama. Ada perasaan yang cukup dirasakan, tanpa harus dimiliki.
Hari-hari berlalu. Hujan datang dan pergi, begitu juga kamu. Ada saatnya kita berjalan searah, ada saatnya langkah kita berpisah. Aku belajar bahwa tidak semua kebersamaan harus berakhir dengan selamanya. Ada yang hadir hanya untuk mengajarkan arti menerima.
Kini, setiap hujan turun, aku tidak lagi menunggumu di halte itu. Namun setiap tetesnya masih membawa kenangan—tentang tawa kecil, tentang diam yang nyaman, tentang kamu yang pernah singgah.
Aku, kamu, dan hujan…
pernah menjadi satu cerita.
Dan itu sudah lebih dari cukup.

.jpeg)
Komentar
Posting Komentar